
Fakultas Ushuluddin, sebagai salah satu pilar tertua dan tertua dalam tradisi keilmuan Islam di UIN Raden Intan Lampung, kini tengah menghadapi tantangan serius: penurunan signifikan jumlah mahasiswa baru tahun akademik 2025.
Kondisi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Raden Intan Lampung saat ini mengkhawatirkan dan menuntut evaluasi kepemimpinan. Berdasarkan data penerimaan dan dokumen perencanaan strategis fakultas, ada bukti kuat bahwa kebijakan yang diterapkan pimpinan fakultas gagal menjaga daya tarik, kapasitas, dan realisasi program kerja unggulan fakultas.
Angka penerimaan mahasiswa baru FUSA 2025 sangat rendah. Dalam pengumuman resmi PBAK UIN Raden Intan Lampung tercatat total 4.174 mahasiswa baru yang dikukuhkan pada PBAK 2025; dari jumlah tersebut Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) hanya menerima 65 mahasiswa baru — salah satu yang terendah di antara fakultas-fakultas di kampus. Data ini menunjukkan penurunan daya tarik pendaftar atau kegagalan strategi rekrutmen fakultas.
RENSTRA FUSA (2023–2027) menetapkan target strategis yang jelas mis peningkatan mutu sumber daya manusia, peningkatan kuantitas & kualitas mahasiswa, pencapaian program unggulan seperti pelatihan kompetensi & PKL, penguatan internasionalisasi, serta peningkatan output penelitian dan pengabdian. RENSTRA ini diterbitkan secara resmi dan menjadi tolok ukur kinerja fakultas.
Laporan monev dan survei internal menunjukkan adanya masalah operasional dan kepuasan (dokumen monev 2024 memuat catatan mengenai kepuasan dan jumlah mahasiswa aktif serta kebutuhan evaluasi layanan akademik). Jika target RENSTRA mensyaratkan kenaikan kualitas dan kuantitas, realitas penerimaan 65 mahasiswa baru secara praktis menempatkan FUSA jauh dari jalur pencapaian target-target tersebut
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus kekecewaan atas kondisi menurunnya jumlah mahasiswa baru tahun akademik 2025. Fakta ini bukan sekadar data statistik penerimaan, melainkan cermin nyata dari gagalnya birokrasi fakultas dalam menjaga eksistensi dan marwah keilmuan Ushuluddin.
Fakultas yang seharusnya menjadi jantung spiritual dan intelektual universitas Islam kini menghadapi krisis eksistensi. Ketika fakultas lain berkembang dengan inovasi dan strategi promosi yang terencana, Fakultas Ushuluddin justru terjebak dalam rutinitas birokrasi yang kaku, lamban, Represif dan tidak visioner.
Selama ini, kami melihat minimnya langkah strategis dan inisiatif dari pihak fakultas untuk memperkenalkan kembali Ushuluddin kepada masyarakat luas.
Promosi nyaris tidak terdengar, dan komunikasi publik fakultas begitu lemah. Padahal, di era digital yang serba cepat ini, eksistensi lembaga sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi dan keberanian berinovasi.
birokrasi terkesan menutup mata terhadap realitas penurunan minat mahasiswa. Tidak ada evaluasi terbuka, tidak ada forum akademik yang melibatkan mahasiswa untuk membahas persoalan mendasar ini. Birokrasi seolah nyaman dalam zona administrasi, sementara nilai-nilai keilmuan Ushuluddin tergerus oleh waktu dan ketidakpedulian.
Lebih Ironis lagi Gaya Birokrasi yang represif Mematikan Demokrasi Di Fakultas Ushuluddin birokrasi tidak percaya pada kemampuan mahasiswa mahasiswa untuk berdomokrasi. Dengan mencabut hak demokrasi mahasiswa birokrasi sesungguhnya sedang mematikan potensi kepemimpinan masa depan
Kami, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, dengan ini menyatakan sikap tegas:
Menuntut pimpinan fakultas melakukan evaluasi total terhadap sistem promosi, penerimaan mahasiswa, dan strategi pengembangan akademik.
Mendesak adanya transparansi dan akuntabilitas birokrasi dalam setiap kebijakan yang berdampak pada keberlangsungan fakultas.
Mendorong pembaruan visi dan arah keilmuan Fakultas Ushuluddin agar lebih relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar Islam.
Menolak gaya birokrasi represif Yang mematikan kehidupan demokrasi di fakultas ushuluddin.
Menegaskan bahwa Aliansi Mahasiswa Fakultas Ushuluddin akan terus mengawal dan mengkritisi birokrasi fakultas sampai ada langkah nyata untuk memperbaiki krisis ini.
Kami menuntut transparansi, audit, dan tindakan korektif segera untuk mencegah kerusakan jangka panjang pada reputasi dan fungsi akademik fakultas.
Kami tidak akan diam melihat fakultas ini perlahan kehilangan arah. Ushuluddin bukan sekadar nama, bukan sekadar bangunan ia adalah ruh keilmuan dan identitas kampus Islam yang harus dijaga.
Jika birokrasi gagal menjaga eksistensi ini, maka mahasiswa akan berdiri di barisan depan untuk mengingatkan dan memperjuangkannya
Tinggalkan komentar